Konferensi Anak Indonesia berawal pada hari Minggu, 13 November 2011 lalu. Sebanyak 36 anak dari seluruh Indonesia dipersatukan di Jakarta dan merasakan asyiknya bertemu dengan teman baru yang akan menghadiri acara yang sama. Penasaran apa yang dilakukan teman-teman kita itu selama enam hari acara? Simak kisahnya.
Pada hari pertama, para peserta delegasi berpisah dari orangtua mereka. Uniknya, beberapa dari mereka tidak merasa sedih, mungkin bakalan bertemu dengan teman yang baru ya? Mungkin saja.
Hari kedua, peserta saling memperkenalkan diri di hadapan peserta lainnya. “Nama saya Nova, delegasi dari Papua!” seru Nova. Ibu Henny Supolo melontarkan pertanyaan kepada para peserta, “Kenapa, sih, kita suka susah berbuat jujur?” Para peserta serentak menjawab, “Maluuu! Takut dihukum!” Hihihi… Ibu Henny tersenyum dan kemudian mengajak mereka berdiskusi tentang manfaat berbuat jujur.
Hari ketiga, para peserta diajak bermain menyelesaikan masalah. Mereka diberi sebuah cerita. Mau tahu ceritanya? Alkisah di negeri Antaho dan Berantahe, masing-masing memiliki presiden dan wakil presiden. Masalahnya, cara berkomunikasi mereka berbeda antar satu dengan lainnya. Nah, peserta disuruh untuk mencari solusi agar kedua negara itu bisa mengobrol. Hihihi… ada yang tahu?
Hari keempat adalah hari perumusan deklarasi. Para peserta mengaku kesulitan menyusun kata-kata deklarasi itu. Ssttt! Ternyata bukan hanya peserta saja yang membuat deklarasi, lho. Para orangtua dan guru juga melakukannya. Mereka berjanji untuk menjadi teladan kejujuran, fokus pada kelebihan anak, dan mengurangi kritik dan omelan karena kekurangan yang dimiliki oleh anak. Air mata mereka menetes saat itu. Hiks.
Hari kelima, saatnya pembacaan deklarasi dan menerima penghargaan. Pak Anis Baswedan berpesan agar berhati-hati saat berkata jujur. Terutama saat berkata yang bersifat kritikan dan hal jelek tentang orang lain. Jangan sampai menyinggung perasaan, katanya.
Malamnya, acara perpisahan pun digelar. Semuanya sibuk bertukar nomor telepon, akun Facebook, dan sebagainya. Sekali teman, tetap berteman.
Hasil Deklarasi Konferensi Anak Indonesia 2011
Beberapa waktu yang lalu teman-teman yang terpilih sebagai delegasi di Konferensi Anak Indonesia 2011 mengeluarkan pendapat mereka tentang kejujuran di mata mereka. Di dalam acara ini pula mereka mengungkapkan harapan, kekhawatiran, serta tekad mereka akan mengakui kejujuran. Penasaran seperti apakah perasaan mereka? Simak kesimpulan deklarasi tersebut berikut ini.
Jujur di mataku:
- Jujur itu indah, asyik, dan menyenangkan karena membawa ketenangan dan perasaan lega.
- Jujur itu dapat berupa kata-kata/tindakan yang disampaikan secara apa adanya.
- Dengan berbuat jujur, kita memiliki harga diri yang baik karena kita dapat dipercaya orang lain.
- Jujur merupakan perbuatan yang baik dan wajib dimulai dari kecil supaya menjadi kebiasaan.
- Jujur harus dilakukan dengan ikhlas.
- Seringkali perbuatan jujur membutuhkan pengorbanan dan harus menanggung resiko agar dapat meraih kesuksesan.
Harapanku:
- Kejujuran yang dimulai sejak dini akan membawa cinta yang membuat kita dipercaya, dihargai, mempunyai banyak teman, yang akan menjadikan kita sukses menjadi pemimpin teladan yang dapat membanggakan orangtua.
Kekhawatiranku:
- Malu.
- Takut dimarahi atau dijauhi.
- Takut menanggung resiko/dihukum/diancam.
- Takut tidak dipercaya.
- Takut merepotkan orang lain.
- Tidak berani mengungkapkan yang sebenarnya.
- Takut tidak menghargai orang lain.
- Takut dianggap sok tahu.
- Takut di-bully.
Tekadku:
Kita semua tahu bahwa jujur itu tidak mudah, tetapi jujur itu indah dan harus kita lakukan. Jujur juga dapat membimbing kita ke jalan yang lurus. Kami memang kadang berbohong, namun kami memiliki tekad untuk lebih jujur dengan cara:
- Lebih percaya diri untuk mengatasi malu.
- Berani menanggung resiko.
- Lebih rajin belajar agar tidak perlu menyontek.
- Tidak akan dimasukkan ke hati atau dipikirkan ketika diejek atau dicemooh, dan harus sabar.
- Akan lebih rajin beribadah.
- Tidak memihak satu kelompok.
- Menerima diri kita apa adanya.
- Menghargai orang lain dan orangtua.
- Tidak berprasangka buruk kepada orang lain.
- Pantang menyerah.
Jakarta, 17 November 2011 oleh Delegasi Konferensi Anak Indonesia 2011.
Nah, itulah hasil konferensi yang telah dilaksanakan dan disukseskan oleh mereka yang terpilih. Mereka telah bertekad untuk selalu mengatakan kejujuran walaupun hal itu tak mudah. Siapkah teman-teman berlaku jujur?
Diadaptasi dari Majalah Bobo #35 08/12/2011.
